Islam datang bukan untuk membentuk sekte atau kelompok, melainkan untuk menegakkan agama tauhid yang murni. Namun, di berbagai zaman, muncul kelompok dan individu yang lebih loyal kepada pemimpinnya, madzhabnya, atau gurunya dibanding kepada dalil dari Al-Qur’an dan sunnah.
“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas.”
(QS. Ali Imran: 105)
Apa Itu Fanatisme?
Fanatisme (taʿaṣṣub) secara istilah adalah:
“Kecenderungan ekstrem terhadap sesuatu hingga menolak kebenaran yang bertentangan dengannya, walaupun memiliki bukti yang jelas.”
Fanatisme bisa berupa:
- Fanatik kepada tokoh
- Fanatik kepada mazhab
- Fanatik kepada kelompok/organisasi
- Fanatik kepada tradisi
Bahaya Fanatisme dalam Agama
- Menolak kebenaran dari luar kelompoknya
– Seolah-olah hanya gurunya yang benar, yang lain salah. - Menutup pintu ilmu dan diskusi
– Karena sudah merasa cukup dengan “kata ustadz saya”, bukan “kata Allah dan Rasul”. - Merusak ukhuwah sesama Muslim
– Karena cenderung menyesatkan, memusuhi, atau mencibir yang tidak satu kubu. - Menjadikan agama berdasarkan manusia, bukan wahyu
– Padahal, siapa pun bisa salah kecuali Rasulullah ﷺ.
Contoh Fanatisme yang Merusak
- Menganggap tokoh tertentu “pasti benar” meski menyelisihi hadits shahih
- Mengikuti organisasi keagamaan secara mutlak dan membenarkan semua kebijakannya
- Menolak dalil hanya karena tidak datang dari “kalangan kita”
- Mengagungkan tokoh sampai menolak kritik dan tidak mau menyebut kesalahannya
Sikap Ulama Terdahulu terhadap Fanatisme
Para ulama salaf sangat keras dalam melawan fanatisme:
- Imam Malik berkata:
“Setiap orang bisa diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali Nabi ﷺ.”
- Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Jika kamu melihat pendapatku bertentangan dengan hadits Rasulullah ﷺ yang sahih, maka buanglah pendapatku ke dinding.”
- Imam Ahmad bin Hanbal berkata:
“Janganlah kamu taklid kepadaku, kepada Malik, Asy-Syafi’i, Ats-Tsauri, dan Al-Awza’i, tapi ambillah dari mana mereka mengambil: Al-Qur’an dan sunnah.”
Bagaimana Fanatisme Tumbuh di Tengah Masyarakat?
- Kurangnya ilmu
- Tumbuh di lingkungan yang eksklusif
- Pembinaan agama yang bercampur loyalitas kelompok
- Ketokohan dan kharisma yang tidak disikapi secara ilmiah
- Ketakutan untuk berbeda dari komunitasnya
Sikap Seorang Muslim: Loyal Kepada Kebenaran
- Mencintai ulama dan tokoh, tapi tidak mengkultuskan
- Mengikuti pendapat yang kuat berdasarkan dalil
- Berani meninggalkan pendapat guru jika terbukti salah
- Menghindari sikap “kelompokisme” dalam dakwah
- Menguatkan ukhuwah dengan semua Muslim selama berada di atas tauhid
Loyalitas kepada Allah dan Rasul, Bukan kepada Tokoh
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya…”
(QS. Al-Hujurat: 1)
Ketaatan yang mutlak hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Adapun manusia, maka diikuti jika benar dan ditinggalkan jika salah.
Ujian di Kalangan Pemuda: Semangat vs Ilmu
Pemuda sering kali semangat dalam agama, tapi belum cukup ilmu. Maka mereka rentan:
- Tertarik pada tokoh yang retorikanya kuat
- Terkesan dengan gaya, bukan dalil
- Terjebak dalam komunitas yang membentuk loyalitas kelompok, bukan loyalitas kepada wahyu
Di sinilah pentingnya mendidik pemuda untuk beragama secara ilmiah, bukan hanya emosional.
Penutup: Jangan Jadi Budak Tokoh, Jadilah Penuntut Kebenaran
Mencintai ulama adalah bagian dari agama. Tapi menjadikan mereka sebagai standar kebenaran, tanpa memperhatikan Al-Qur’an dan sunnah, adalah kesesatan yang tersembunyi.
“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul…”
(QS. An-Nisa: 59)
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
