Islam adalah agama yang dibangun di atas ilmu, bukan perasaan. Semua amal dalam Islam memiliki syarat utama: harus dibangun di atas ilmu yang benar. Namun, ilmu yang benar tidak akan sampai kepada seseorang kecuali dari jalan yang benar pula, yaitu belajar dari orang yang terpercaya dalam agama dan akidahnya.
“Maka bertanyalah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini bukan hanya menyuruh untuk bertanya, tetapi juga menentukan kepada siapa bertanya: yaitu ahli ilmu, bukan hanya yang mengaku berilmu.
Ilmu Agama Itu Suci, Maka Jalurnya pun Harus Suci
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi.”
(HR. Abu Dawud, hasan)
Jika ulama adalah pewaris nabi, maka mereka membawa ilmu wahyu yang suci. Tidak setiap orang yang bisa berbicara tentang Islam berarti pewaris nabi. Apalagi jika ilmunya tercemar dengan:
- Hawa nafsu
- Pemikiran menyimpang
- Ideologi modernis yang membongkar ajaran klasik
- Taklid buta terhadap tradisi tertentu
Bahaya Mengambil Ilmu dari Orang yang Salah
- Menjadi sesat tanpa merasa sesat
– Karena merasa telah belajar agama, padahal dari sumber yang rusak - Tertanam akidah menyimpang
– Seperti memuja wali, percaya karomah yang batil, atau tidak memurnikan ibadah kepada Allah - Terpengaruh metode dan gaya berpikir liberal
– Seperti meragukan hadits, menolak ijma’ ulama, dan menakwil ayat-ayat sesuai logika - Terjatuh dalam bid’ah yang dikira sunnah
Tanda-Tanda Sumber Ilmu yang Tidak Terpercaya
- Tidak jelas gurunya atau sanad keilmuannya
- Sering menyalahkan sahabat dan ulama salaf
- Membuka pintu perdebatan tanpa adab
- Mengandalkan logika lebih dari nash
- Mempromosikan persatuan tanpa tauhid
- Mengkampanyekan agama yang fleksibel mengikuti zaman, bukan yang setia kepada wahyu
Kriteria Guru atau Ulama yang Layak Diikuti
- Berakidah lurus
– Mengajarkan tauhid, menolak syirik dan bid’ah - Bersandar kepada Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman sahabat
- Tidak mengajak kepada tokoh atau kelompok, tapi kepada Allah
- Tawadhu dan tidak mencari ketenaran
- Diakui oleh ulama terpercaya lainnya
Sikap Seorang Penuntut Ilmu yang Benar
- Tidak tergesa-gesa mengambil ilmu dari siapa saja
- Bertanya: “Dari mana ustadz ini belajar?”
- Membandingkan pendapat dengan dalil
- Mau memperbaiki pemahaman meski bertentangan dengan yang biasa diyakini
- Lebih mencintai kebenaran daripada guru
Mengapa Pemuda Rentan Salah Pilih Guru?
- Tertarik pada gaya retorika, bukan isi ilmiah
- Mudah terpesona dengan gaya bahasa motivasional tanpa muatan dalil
- Malas menyaring konten agama di media sosial
- Ingin praktis, tidak mau proses belajar dari dasar
Padahal, ilmu yang berkah itu butuh kesabaran, pemurnian, dan jalur sanad yang jelas.
Contoh dari Ulama Salaf
- Ibnu Sirin رحمه الله berkata:
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
- Imam Malik رحمه الله ketika ditanya oleh seseorang yang ingin menulis fatwa beliau, berkata:
“Jangan kau tulis semua pendapatku! Ambillah dari mana aku mengambil: dari Al-Qur’an dan sunnah.”
Era Digital: Banyak Ustadz, Tapi Tidak Semua Layak Diikuti
Sekarang, siapapun bisa membuat channel dakwah. Tapi apakah semua yang viral itu benar? Apakah semua yang trending itu sunnah?
“Akan datang suatu zaman, orang yang paling fasih berbicara akan dijadikan rujukan agama, padahal ia paling jauh dari petunjuk.”
(Makna dari atsar salaf)
Pemuda Muslim harus lebih hati-hati memilih rujukan daripada memilih makanan, karena ilmu membentuk hati dan amal.
Penutup: Pilih Jalan yang Lurus, Bersama Ahlinya
Islam adalah agama yang sempurna. Tapi untuk sampai ke sana, kamu perlu guru yang amanah dan jalan yang sahih. Jangan tergoda oleh popularitas, retorika, atau sentimen.
“Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)
Maka bertanyalah kepada ulama yang takut kepada Allah, bukan kepada yang ingin tenar atau menyenangkan telinga manusia.
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
