Islam bukanlah sekadar agama yang diyakini, tetapi jalan hidup yang dicontohkan secara sempurna oleh Nabi Muhammad ﷺ. Segala aspek agama—dari sholat, muamalah, akhlak, hingga ibadah harian—telah dipraktikkan secara utuh oleh Rasulullah ﷺ, sebagai bentuk wahyu dari Allah ﷻ.
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Mengikuti sunnah Nabi bukan hanya soal detail teknis ibadah, tetapi juga menyangkut loyalitas dan cinta kita kepada Allah.
Makna Sunnah
Secara bahasa, “sunnah” berarti jalan atau cara hidup.
Dalam istilah syariat, sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah ﷺ:
- Ucapan
- Perbuatan
- Persetujuan
- Sifat fisik dan akhlak
Kenapa Harus Mengikuti Sunnah?
- Karena Rasulullah ﷺ diutus sebagai pembawa syariat
“Barangsiapa yang menaati Rasul, maka sungguh ia telah menaati Allah.”
(QS. An-Nisa: 80) - Karena Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling benar dalam mengikuti wahyu
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara dari hawa nafsunya. Itu hanyalah wahyu yang diwahyukan.”
(QS. An-Najm: 3-4) - Karena keselamatan di akhirat hanya diraih dengan ittiba’
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”
Para sahabat bertanya: “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab: “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka dia telah enggan.”
(HR. Bukhari)
Sunnah vs Bid’ah: Menjaga Kemurnian Agama
Mengikuti sunnah berarti:
- Beribadah sesuai contoh Nabi
- Tidak menambah-nambah yang tidak diajarkan
- Menyederhanakan agama sesuai fitrah
Sementara meninggalkan sunnah membuka pintu bid’ah, yaitu menambah sesuatu dalam agama yang tidak berasal dari Nabi ﷺ. Banyak kebiasaan masyarakat yang dianggap ibadah, padahal tidak punya landasan dalam sunnah, seperti:
- Dzikir berjamaah dengan redaksi tertentu setelah shalat
- Ritual malam tertentu yang tidak dituntunkan
- Berdoa dengan perantara orang mati
Contoh Penerapan Sunnah dalam Kehidupan Sehari-hari
- Sholat sesuai tata cara Nabi, termasuk letak tangan, membaca doa-doa tertentu, dan tumakninah
- Cara makan dan minum, dengan tangan kanan, tidak mencela makanan, duduk saat minum
- Berpakaian dengan adab dan menutup aurat sebagaimana Nabi ajarkan
- Adab tidur dan bangun tidur, termasuk doa-doa sebelum dan sesudah
- Zikir pagi dan petang, sebagaimana Nabi ajarkan, bukan hasil karangan tokoh
Sikap Pemuda terhadap Sunnah
Seorang pemuda Muslim yang ingin teguh di atas Islam harus:
- Mencintai sunnah melebihi kebiasaan masyarakat
- Belajar dari sumber terpercaya (Al-Qur’an dan hadits shahih)
- Tidak fanatik terhadap adat jika bertentangan dengan sunnah
- Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai rujukan utama dalam ibadah
- Berusaha menjalankan sunnah meski dianggap asing
“Islam itu datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing seperti saat datang pertama kali. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”
(HR. Muslim)
Mengikuti Sunnah Itu Tidak Fanatik
Mengikuti sunnah bukan berarti keras, kaku, atau menutup mata terhadap realitas. Justru:
- Sunnah mengajarkan hikmah dan kelembutan
- Sunnah mendorong keadilan dan kasih sayang
- Sunnah menanamkan kesederhanaan dan ketegasan dalam kebenaran
Pemuda yang mengikuti sunnah akan tampil tenang dalam prinsip, bijak dalam berdakwah, dan kukuh di tengah arus zaman.
Sunnah Tidak Akan Ketinggalan Zaman
Sebagian orang berkata: “Sunnah itu cocok di zaman dahulu, tidak lagi relevan hari ini.”
Ini ucapan yang salah dan meremehkan wahyu. Islam diturunkan sebagai petunjuk hingga hari kiamat, dan Rasulullah ﷺ adalah penutup para nabi.
“Hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian…”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Maka setiap penyimpangan dari sunnah—meski tampak modern atau inovatif—adalah kemunduran dalam beragama.
Penutup: Kembalilah kepada Sunnah, Pasti Selamat
Sunnah bukan sekadar teori, tapi jalan keselamatan. Ia adalah pelita di tengah kegelapan zaman, dan tiket menuju ridha Allah.
“Aku tinggalkan kalian di atas jalan yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang darinya kecuali orang yang binasa.”
(HR. Ahmad)
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
