Di tengah semangat beragama yang tinggi, sebagian orang justru terjebak dalam bentuk-bentuk ibadah yang tidak diajarkan Rasulullah ﷺ. Mereka melakukannya dengan niat baik, tetapi tanpa dasar dari wahyu. Inilah yang dalam istilah syar’i disebut dengan bid’ah—dan ini termasuk bahaya besar dalam agama.
“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
(HR. Muslim)
Apa Itu Bid’ah?
Secara bahasa, bid’ah berarti “hal baru” atau “yang diada-adakan”.
Secara istilah dalam agama, bid’ah adalah:
“Sesuatu yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada dasarnya dari syariat (Al-Qur’an dan sunnah), baik dalam bentuk keyakinan maupun amal.”
Kaedah penting: “Bid’ah adalah menambah atau membuat cara ibadah baru dalam agama yang tidak dicontohkan Rasulullah ﷺ dan tidak dicontohkan para sahabatnya.”
Mengapa Bid’ah Itu Berbahaya?
- Menyaingi syariat
Seolah-olah menganggap agama belum sempurna sehingga perlu ditambah-tambah. - Menolak sunnah secara tidak langsung
Karena bid’ah sering dilakukan untuk menggantikan sunnah yang benar. - Membuat orang merasa cukup dengan amalan yang tidak bernilai
Akibatnya mereka tidak mencari ilmu atau memperbaiki ibadah. - Memecah umat dan menimbulkan fanatisme terhadap praktik non-syariat
“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu…”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Jika agama sudah sempurna, maka setiap tambahan dalam agama justru merusak kesempurnaannya.
Kriteria Suatu Amalan Termasuk Bid’ah
- Tidak ada contoh dari Nabi ﷺ
- Dilakukan secara rutin seolah-olah bagian dari syariat
- Diyakini memiliki keutamaan tertentu
- Dilakukan dalam urusan agama, bukan dunia
Contoh Bid’ah dalam Ibadah
- Berdoa berjamaah setelah sholat fardhu secara rutin
- Merayakan Maulid Nabi sebagai bentuk ibadah tahunan
- Dzikir dengan bilangan dan bentuk tertentu yang tidak ada dari Nabi
- Shalawat-shalawat yang berlebihan dan melampaui batas syariat
- Mencari keberkahan dari kuburan atau orang mati
Bukan berarti semua inovasi itu buruk, selama berada dalam urusan dunia (seperti teknologi) tidak disebut bid’ah syar’i. Yang dilarang adalah menambah dalam urusan agama.
Pandangan Ulama Klasik tentang Bid’ah
- Imam Malik رحمه الله berkata:“Barangsiapa mengada-adakan dalam Islam suatu bid’ah yang dianggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad ﷺ mengkhianati risalah…”
- Imam Asy-Syafi’i رحمه الله membedakan antara bid’ah dalam bahasa (hal baru dalam teknologi, tata kelola, dsb.) dan bid’ah dalam agama yang diharamkan.
- Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه berkata:“Ikutilah, dan jangan mengada-ada! Sudah cukup bagimu ajaran itu!”
Mengapa Banyak Orang Tertarik kepada Bid’ah?
- Merasa lebih khusyuk dengan tata cara baru
- Mencari sensasi ibadah yang berbeda
- Tidak memahami sunnah dengan benar
- Turunan tradisi dari orang tua dan tokoh masyarakat
- Merasa lebih “beragama” meski tidak sesuai nash
Bid’ah sering dikemas dengan “niat baik”, padahal niat tidak cukup jika tidak sesuai dengan petunjuk syariat.
Perbedaan Bid’ah dan Ijtihad
Ijtihad dilakukan oleh ulama mujtahid untuk mencari hukum syar’i dari dalil yang ada, bukan menambah hal baru dalam agama.
Bid’ah adalah ibadah baru tanpa dalil dan tidak dicontohkan Rasulullah ﷺ.
Sikap Seorang Pemuda Muslim terhadap Bid’ah
- Menuntut ilmu syar’i dari sumber yang sahih
- Tidak fanatik buta kepada tradisi atau tokoh
- Berani bertanya dalil dalam setiap praktik agama
- Menghindari amalan yang tidak jelas asal-usulnya
- Membela sunnah dengan hikmah, bukan debat kusir
Penutup: Pegang Sunnah, Tinggalkan Bid’ah
Di tengah zaman yang penuh inovasi, pemuda Muslim harus kritis dan selektif, khususnya dalam hal agama. Jangan mudah terbawa arus “ramainya orang”, karena kebenaran bukan diukur dari jumlah pengikut, tapi dari dalil dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
“Barang siapa mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang tidak ada darinya, maka itu tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
