Tauhid merupakan inti ajaran Islam, pilar utama yang menentukan keimanan seorang Muslim. Namun, banyak di antara kita—terutama remaja dan pemuda—yang kurang memahami dengan baik apa makna tauhid sesungguhnya. Padahal, pemahaman yang benar terhadap tauhid adalah bekal penting agar mampu menghadapi berbagai tantangan di era modern ini.
Secara sederhana, tauhid artinya mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, keyakinan, dan aktivitas kita sehari-hari. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menegaskan tujuan hidup manusia semata-mata untuk mengabdi dan menyembah Allah. Ibnu Katsir, ulama besar dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa ibadah yang dimaksud adalah mengesakan Allah dalam perbuatan, ucapan, dan keyakinan—itulah esensi tauhid.
Seorang Muslim harus memahami bahwa kalimat “La ilaha illallah” yang ia ucapkan bukan hanya sebatas kata tanpa makna, namun mengandung konsekuensi besar. Imam Muhammad bin Abdul Wahhab menjelaskan dalam kitabnya, Al-Ushul Ats-Tsalatsah, bahwa kalimat ini menuntut penafian (peniadaan) segala bentuk sembahan selain Allah dan menetapkan ibadah hanya kepada-Nya semata.
Remaja saat ini hidup dalam zaman yang penuh dengan tantangan pemikiran dan keyakinan. Informasi datang begitu cepat melalui media sosial, internet, dan berbagai saluran digital lainnya. Tak jarang, pemuda Muslim terpapar ideologi atau keyakinan yang bertentangan dengan prinsip tauhid tanpa mereka sadari. Oleh karena itu, sangat penting memperkuat pondasi tauhid agar mereka tidak mudah terbawa arus syubhat (kerancuan) yang tersebar di mana-mana.
Salah satu tantangan yang sering dihadapi adalah kecenderungan memuja atau mengidolakan seseorang secara berlebihan. Di kalangan remaja, fenomena “idola” yang diagungkan berlebihan—entah artis, atlet, atau influencer—kerap kali tanpa disadari membuat mereka menempatkan idola tersebut sejajar atau bahkan lebih penting dibandingkan Allah dalam hati mereka.
Padahal, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
“Barangsiapa yang mencintai sesuatu selain karena Allah, maka cintanya itu hanya akan membawa kepada kesedihan dan penyesalan.” (HR. Ahmad, sanadnya hasan)
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin menerangkan bahwa hati manusia diciptakan untuk mengesakan Allah semata. Ketika hati dipenuhi kecintaan kepada selain Allah secara berlebihan, maka yang akan muncul hanyalah kegelisahan dan penderitaan batin.
Tauhid juga terbagi menjadi tiga jenis yang wajib diketahui oleh setiap Muslim: Tauhid Rububiyah, Uluhiyah, serta Asma wa Sifat. Pertama, Tauhid Rububiyah, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan, mengatur, dan memiliki seluruh alam semesta. Allah Ta’ala berfirman:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)
Mayoritas manusia secara fitrah mengakui adanya Allah sebagai pencipta. Namun, seringkali mereka lalai dari bentuk tauhid yang kedua, yaitu Tauhid Uluhiyah, yang berarti mengesakan Allah dalam ibadah. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan, inilah esensi ajaran para Nabi: mengajak umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah, meninggalkan sembahan lain yang tidak berhak.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Sayangnya, banyak anak muda Muslim yang lalai akan makna ini. Mereka sering melakukan ibadah hanya karena tradisi, ikut-ikutan teman, atau sekadar menggugurkan kewajiban tanpa memahami bahwa ibadah adalah hak Allah yang paling utama.
Bentuk tauhid ketiga adalah Tauhid Asma wa Sifat, yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sesuai dengan yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk atau menafikan sifat-sifat-Nya. Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Kita tetapkan untuk Allah sifat-sifat-Nya sebagaimana datangnya, tanpa tahrif (mengubah), tanpa ta’thil (menolak), tanpa takyif (menentukan bagaimana), dan tanpa tamtsil (menyerupakan dengan makhluk).”
Pemuda Muslim zaman sekarang wajib memahami bahwa menyimpang sedikit saja dalam hal ini bisa menjerumuskan pada keyakinan yang sesat. Pemikiran-pemikiran liberal dan rasionalis sering kali mempertanyakan sifat-sifat Allah dengan akal semata, menyebabkan banyak keraguan yang merusak pondasi iman.
Mengenal tauhid bukan hanya sebatas ilmu teori, namun harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemuda Muslim harus menjadikan tauhid sebagai standar dalam setiap keputusan, mulai dari hal kecil hingga urusan besar dalam hidupnya.
Misalnya dalam memilih teman, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Seseorang itu berada pada agama temannya, maka hendaknya setiap orang dari kalian memperhatikan siapa temannya.” (HR. Abu Dawud, shahih)
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa memilih teman yang baik adalah bagian dari menjaga agama dan tauhid. Seorang teman yang buruk bisa membawa seseorang kepada keyakinan dan perbuatan yang jauh dari tauhid.
Di akhir tulisan ini, mari kita renungkan sejenak tentang betapa besar nikmat Allah atas kita berupa Islam dan tauhid ini. Di tengah maraknya gelombang pemikiran dan gaya hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, kita harus menyadari bahwa memahami tauhid adalah kunci kebahagiaan dunia akhirat.
Allah Ta’ala menegaskan janji-Nya kepada orang-orang yang bertauhid dengan benar:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Pemuda Muslim sejati adalah pemuda yang menyadari pentingnya tauhid sebagai pondasi kehidupan. Dia senantiasa memperbarui iman, meluruskan niat, dan menjaga diri dari segala sesuatu yang bisa mencederai kemurnian tauhidnya.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk memahami, meyakini, dan menjalankan tauhid yang benar, agar hidup kita penuh berkah, ketenangan, serta kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Amin.
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
