Setiap Muslim mengucapkan dalam syahadatnya: “Lā ilāha illallāh.” Dan setiap Muslim juga meyakini dalam hatinya bahwa ia beriman kepada Allah. Namun, tidak semua memahami apa makna iman kepada Allah secara utuh.
Iman kepada Allah bukan sekadar percaya bahwa Allah itu ada. Bahkan orang musyrik zaman dahulu pun mengakui keberadaan Allah:
“Dan jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’”
(QS. Luqman: 25)
Namun mereka tetap disebut kafir, karena tidak mentauhidkan Allah dalam ibadah dan pengesaan-Nya. Maka dari itu, iman kepada Allah yang benar harus mencakup empat unsur utama.
1. Mengimani Keberadaan Allah
Seorang Muslim harus meyakini dengan pasti dan tanpa ragu bahwa Allah subḥānahu wa taʿālā benar-benar ada. Keberadaan Allah adalah fitrah setiap manusia dan dikuatkan oleh akal, wahyu, dan ciptaan-Nya.
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”
(QS. Ath-Thur: 35)
“Tidak ada satu pun makhluk melainkan Allah-lah Penciptanya.”
(QS. Az-Zumar: 62)
2. Mengimani Rububiyah Allah (Keberhakan-Nya sebagai Rabb)
Yaitu meyakini bahwa Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pengatur, Pemberi rezeki, dan Pemilik seluruh alam semesta.
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberi rezeki kepadamu, kemudian mematikanmu, lalu menghidupkanmu (kembali).”
(QS. Ar-Rum: 40)
Ini adalah bentuk tauhid rububiyah, yaitu meyakini perbuatan-perbuatan Allah sebagai Rabb. Namun ini saja tidak cukup untuk menjadi Muslim. Iblis pun mengakui bahwa Allah adalah Rabb:
“Ya Rabbku, beri aku tangguh sampai hari kebangkitan.”
(QS. Al-A’raf: 14)
3. Mengimani Uluhiyyah Allah (Hanya Dia yang Berhak Disembah)
Inilah esensi dakwah semua nabi: mengajak manusia untuk beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan semua bentuk peribadatan kepada selain-Nya.
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau, melainkan Kami wahyukan kepadanya: Bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya: 25)
Iman kepada Allah akan sia-sia jika seseorang:
- Berdoa kepada kubur, wali, atau jin
- Meminta pertolongan kepada makhluk dalam perkara ghaib
- Menyembelih untuk selain Allah
- Bernadzar untuk makhluk atau selain-Nya
Ini adalah syirik yang membatalkan iman.
4. Mengimani Asma dan Sifat Allah
Seorang Muslim wajib:
- Mengimani nama-nama dan sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah dengan pemahaman yang sesuai dengan generasi salaf
- Tanpa tahrif (mengubah makna), tanpa ta’thil (menolak), tanpa takyif (membagaimanakan), dan tanpa tamsil (menyerupakan)
Contoh:
- Allah Maha Mendengar (السميع), Maha Melihat (البصير), Maha Pengampun (الغفور), dan sebagainya
“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
(QS. Ash-Shura: 11)
Konsekuensi Iman kepada Allah
Iman kepada Allah tidak cukup di lisan dan hati. Ia harus membuahkan amal nyata:
1. Bertauhid dalam seluruh bentuk ibadah
- Shalat, doa, sedekah, zikir, bahkan niat dan harapan
2. Takut hanya kepada Allah
- Bukan kepada makhluk, jin, sihir, atau penguasa zalim
3. Cinta terbesar hanya untuk Allah
- Mengutamakan perintah Allah dibanding hawa nafsu atau manusia
4. Bertawakkal dan bergantung hanya kepada-Nya
- Tidak kepada jimat, dukun, ramalan, atau sistem duniawi
Ciri-Ciri Orang yang Benar-Benar Beriman kepada Allah
- Khusyuk dalam shalat
- Menjaga diri dari dosa meski tersembunyi
- Tidak mudah berputus asa dari rahmat Allah
- Selalu merasa diawasi
- Memohon hanya kepada-Nya
- Menjadikan syariat sebagai panduan hidup
Iman kepada Allah di Zaman Penuh Godaan
Hari ini, pemuda dihadapkan dengan:
- Materialisme: menjadikan dunia sebagai tujuan
- Ateis dan skeptisisme: meragukan eksistensi Tuhan
- Syirik modern: percaya pada energi semesta, manifestasi, atau kekuatan gaib
Maka iman kepada Allah harus ditanamkan melalui ilmu, dzikir, ibadah, dan lingkungan yang baik.
Penutup: Perkuat Imanmu kepada Allah Setiap Hari
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah, maka gemetarlah hati mereka…”
(QS. Al-Anfal: 2)
Wahai pemuda, jangan biarkan hatimu kosong dari iman. Jangan biarkan lisanmu kosong dari dzikir. Jangan biarkan hidupmu tanpa arah dari Allah.
Perbarui imanmu dengan ilmu, amal, dan penghayatan. Karena tanpa iman kepada Allah, seluruh amal tidak bernilai.
“Dan barangsiapa mengingkari Allah, maka sungguh sia-sialah amalnya dan di akhirat ia termasuk orang yang merugi.”
(QS. Al-Ma’idah: 5)
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
