two white speech bubbles sitting on top of a brown surface

Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Ghibah, Namimah, dan Fitnah

Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah lisan. Dengan lisan, manusia bisa berbicara, menyampaikan ilmu, menyebarkan kebaikan, dan mempererat ukhuwah. Namun di saat yang sama, lisan juga bisa menjadi sebab utama seseorang terjerumus ke dalam neraka. Dalam hadits sahih, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya seseorang berkata satu kata yang ia anggap ringan, namun ia terjatuh karenanya ke dalam neraka sedalam tujuh puluh musim.” (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah perkara besar dalam Islam.

Di era media sosial, batas antara lisan dan tulisan menjadi kabur. Satu kalimat di kolom komentar atau status bisa menyebar ke ribuan orang dalam hitungan menit. Lisan digital ini tidak kalah bahayanya dengan ucapan langsung, bahkan bisa lebih berbahaya karena lebih luas dampaknya. Maka setiap pemuda Muslim harus menyadari bahwa tanggung jawab menjaga lisan juga berlaku di dunia digital. Ghibah, namimah, dan fitnah bukan hanya terjadi di warung kopi, tapi kini marak di grup chat, story, dan feed media sosial.

Bahaya Ghibah dalam Syariat dan Realita

Ghibah adalah menyebutkan aib saudara Muslim tanpa sepengetahuannya. Allah menggambarkan ghibah dalam Al-Qur’an dengan gambaran yang sangat menjijikkan, “Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kalian tentu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12). Ini menunjukkan betapa seriusnya dosa ghibah dalam Islam. Sayangnya, banyak pemuda yang menganggapnya sebagai obrolan ringan dan hiburan. Mereka saling membicarakan kejelekan orang lain atas nama “curhat” atau “humor”.

Dalam media sosial, ghibah terjadi dalam bentuk komentar pedas, status menyindir, atau unggahan tentang keburukan seseorang. Bahkan banyak konten viral yang isinya adalah ghibah, dikemas dalam bentuk podcast, reaction video, atau “ngobrol santai”. Ini semua adalah bentuk pelanggaran terhadap kehormatan sesama Muslim. Padahal kehormatan seorang Muslim lebih besar nilainya di sisi Allah daripada Ka’bah. Maka jangan anggap enteng dosa lisan, meskipun hanya dalam bentuk tulisan.

Ghibah juga merusak hati dan ukhuwah. Orang yang terbiasa menggunjing akan sulit menjaga keikhlasan dan penuh prasangka terhadap orang lain. Ia merasa diri lebih baik dan merendahkan saudaranya, padahal bisa jadi saudaranya lebih mulia di sisi Allah. Ghibah juga menjadi penyebab hancurnya pertemanan, keluarga, bahkan komunitas dakwah. Maka jika kita ingin hidup penuh keberkahan, jauhilah ghibah dalam bentuk apapun, baik secara langsung maupun di media sosial.

Namimah: Api Pemecah Ukhuwah

Namimah adalah menyebarkan pembicaraan orang lain dengan tujuan memecah belah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka namimah (adu domba).” (HR. Muslim). Ini menunjukkan betapa besar bahayanya, karena bisa menyebabkan pelakunya terhalang dari rahmat Allah. Namimah tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga di ruang-ruang digital, seperti menyebarkan potongan chat, tangkapan layar, atau pesan rahasia. Bahkan terkadang disertai rekayasa atau fitnah untuk menambah drama.

Pemuda hari ini sering terjebak dalam budaya “spill”, “expose”, dan “bongkar aib” atas nama kejujuran atau keadilan. Padahal banyak di antaranya adalah bentuk namimah yang disebarkan tanpa tabayyun, bahkan sering kali tidak relevan dengan maslahat umat. Ini adalah perangai yang sangat dilarang dalam Islam karena menebar kerusakan dan permusuhan. Seharusnya seorang Muslim menutup aib saudaranya, bukan malah menyebarkannya ke publik. Allah akan menutup aib orang yang suka menutup aib saudaranya di dunia.

Namimah sering kali membuat seseorang kehilangan kepercayaan dan menumbuhkan prasangka buruk antar saudara. Komunitas yang seharusnya menjadi tempat saling menasihati, berubah menjadi ladang konflik karena namimah. Maka kita harus mewaspadai setiap informasi yang disebar tanpa bukti, dan tidak langsung percaya kepada siapa pun. Islam mengajarkan sikap tenang, hati-hati, dan tabayyun dalam menerima dan menyebarkan informasi. Inilah ciri orang yang cerdas dan bertakwa.

Fitnah: Dosa Lisan yang Menghancurkan

Fitnah dalam pengertian umum adalah menyebarkan berita bohong atau tuduhan palsu. Dalam Islam, fitnah lebih berbahaya daripada pembunuhan, sebagaimana firman Allah ﷻ: “Fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191). Ini karena fitnah bisa menghancurkan kehormatan, nama baik, keluarga, dan kehidupan seseorang. Bahkan bisa memicu konflik besar yang merugikan banyak pihak. Maka jangan pernah meremehkan dosa fitnah, sekecil apa pun bentuknya.

Di media sosial, fitnah tersebar dengan sangat cepat. Banyak pemuda yang ikut menyebarkan hoaks, rumor, atau gosip tanpa mengecek kebenarannya. Mereka asal copy-paste, share, atau repost hanya karena menarik atau sensasional. Padahal setiap kalimat yang disebar akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menyampaikan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Menyebarkan fitnah adalah bentuk pengkhianatan terhadap umat Islam. Ia merusak ukhuwah, menimbulkan fitnah terhadap tokoh agama, dan menghancurkan kepercayaan masyarakat. Bahkan sering kali fitnah dimulai dari kesalahpahaman kecil yang dibesar-besarkan. Maka pemuda Muslim harus menahan diri dan tidak ikut dalam arus keburukan ini. Jika tidak tahu kebenaran, diam adalah sikap yang paling aman dan mulia.

Menahan Lisan Adalah Benteng Ketakwaan

Menjaga lisan adalah tanda kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kalimat ini sederhana tapi dalam maknanya. Ia mengajarkan bahwa setiap ucapan harus memiliki nilai kebaikan, bukan sekadar bicara. Maka seorang pemuda Muslim hendaknya melatih diri untuk berbicara seperlunya, dan menimbang setiap kata sebelum dikeluarkan.

Di zaman sekarang, diam bukan berarti pasif, tapi bentuk kehati-hatian dan ketakwaan. Banyak perkara yang tampak sepele, tapi bisa menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa besar karena tidak menjaga lisan. Termasuk di dalamnya status media sosial, komentar, dan candaan digital yang tidak ada manfaatnya. Kita hidup di zaman di mana kata-kata bisa bertahan selamanya dalam bentuk digital. Maka berpikir sebelum menulis adalah bentuk kebijaksanaan.

Latihlah diri untuk berbicara yang baik, menyebarkan ilmu, atau sekadar diam jika tidak bermanfaat. Gunakan lisan untuk mendoakan, menasihati, dan memperbaiki, bukan mencela atau menjatuhkan. Pemuda yang menjaga lisannya adalah pemuda yang disayangi Allah dan manusia. Karena lisan yang lembut akan membuka pintu hati, dan lisan yang kasar akan menutup semua kebaikan.

Menjadikan Media Sosial Sebagai Ladang Amal

Media sosial bisa menjadi sarana kebaikan jika digunakan dengan ilmu dan hikmah. Kita bisa menyebarkan nasihat, dakwah, ilmu, dan inspirasi yang bermanfaat bagi umat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim). Maka jadikan akun kita sebagai ladang pahala, bukan tempat dosa dan permusuhan. Gunakan kekuatan kata untuk memperbaiki, bukan merusak.

Pemuda Muslim harus bijak dan selektif dalam memilih konten dan interaksi digital. Jangan asal komentar, jangan asal repost, dan jangan asal percaya. Setiap klik, like, dan share akan diperhitungkan di hadapan Allah. Jika tidak yakin itu bermanfaat dan benar, maka lebih baik ditinggalkan. Karena keselamatan agama lebih berharga daripada eksistensi digital.

Mari jadikan media sosial sebagai tempat untuk menyebarkan rahmat, bukan kebencian. Gunakan kreativitas untuk membuat konten yang memperkuat aqidah, memperbaiki akhlak, dan mempererat ukhuwah. Jangan ikut arus negatif yang hanya menambah dosa. Pemuda yang menjaga lisannya, baik lisan fisik maupun digital, adalah pemuda yang mulia di sisi Allah dan manusia.

About Amr Abdul Jabbar

Check Also

yellow and green lego blocks

Toleransi dan Batasan Berteman dengan Non-Muslim

Dalam kehidupan modern, interaksi dengan non-Muslim menjadi hal yang tak terhindarkan, baik di sekolah, tempat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *