Masjid adalah tempat yang paling Allah cintai di muka bumi. Ia bukan hanya bangunan ibadah, tetapi jantung peradaban Islam. Sejak masa Rasulullah ﷺ, masjid menjadi pusat segala aktivitas kaum Muslimin: ibadah, ilmu, keputusan politik, bahkan latihan perang. Namun kini, masjid seolah menjadi tempat yang hanya “dimiliki” orang tua dan lansia.
Lalu di manakah pemuda?
Masjid: Tempat yang Diberkahi
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”
(QS. At-Taubah: 18)
Kata “memakmurkan” (ya’murūn) mencakup:
- Mengisi dengan shalat berjamaah
- Menuntut ilmu
- Zikir dan tilawah
- Membersihkan dan menjaga adab
Pemuda memiliki energi, kreativitas, dan semangat, maka mereka lebih layak menjadi motor penggerak masjid.
Pemuda dan 7 Golongan Naungan Arsy
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tujuh golongan yang Allah naungi pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya… di antaranya: pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ibadah yang dimaksud bukan hanya shalat malam di rumah, tapi juga keaktifan di masjid, hadir dalam majelis ilmu, ikut program dakwah, dan menjadi pelopor kebaikan.
Mengapa Pemuda Harus Kembali ke Masjid?
- Menjaga iman di tengah badai fitnah
- Menemukan lingkungan shalih yang positif
- Menyalurkan semangat dan potensi secara syar’i
- Belajar langsung dari sumber ilmu dan para ustadz
- Menguatkan identitas Muslim dalam komunitas
Masjid Zaman Rasulullah ﷺ: Model Ideal untuk Pemuda
Masjid Nabawi di Madinah:
- Tempat tinggal para pemuda miskin yang belajar agama (Ahlush Shuffah)
- Tempat sahabat muda seperti Ali, Usamah, dan Ibn Abbas menuntut ilmu
- Tempat diskusi dan pengambilan keputusan
Masjid bukan tempat sunyi dan formal kaku, tapi penuh dinamika dan pembinaan.
Tantangan Zaman Kini
Sayangnya, banyak masjid hari ini:
- Tidak ramah pemuda
- Dianggap hanya untuk orang tua
- Diatur dengan budaya “jangan ribut”, bukan “ajak dekat”
- Tidak menyediakan ruang kreatif dan aktualisasi pemuda
Akibatnya, pemuda mencari makna hidup di tempat lain: kafe, media sosial, bahkan komunitas yang tidak Islami.
Solusi: Menjadi Pemuda Penggerak Masjid
- Hadiri shalat berjamaah lima waktu
- Ikut serta dalam kegiatan masjid
- Ajak teman ke masjid, bukan ke tempat nongkrong
- Sampaikan ide positif ke pengurus masjid
- Bersihkan dan rawat masjid seperti rumah sendiri
- Buat komunitas pemuda masjid: ngaji, olahraga, bakti sosial
“Jika engkau mencintai rumah Allah, maka Allah akan mencintaimu.”
Masjid Bukan Tempat Elit, Tapi Tempat Taubat
Masjid bukan milik:
- Orang yang sudah sempurna
- Ustadz dan pengurus
- Mereka yang hafal Al-Qur’an
Masjid milik setiap Muslim yang ingin kembali kepada Allah. Bahkan pendosa dan pencari hidayah sangat dianjurkan datang ke masjid.
“Tak ada tempat terbaik untuk berubah kecuali masjid.”
Adab Pemuda di Masjid
- Jaga pakaian dan kebersihan
- Jangan bersenda gurau atau gaduh
- Tidak mengobrol urusan dunia dengan suara keras
- Datang lebih awal untuk shalat
- Duduk di saf terdepan
- Tidak tidur-tiduran atau bermain gadget saat khutbah/kajian
Pemuda Masjid Adalah Harapan Umat
Mereka akan menjadi:
- Imam dan panutan masyarakat
- Da’i dan pembawa cahaya hidayah
- Pendidik generasi berikutnya
- Penjaga kemurnian agama di tengah zaman fitnah
Penutup: Jadilah Pemuda yang Dicintai Allah di Masjid
Kembalilah ke masjid. Jadikan masjid sebagai rumah kedua. Bawalah semangat, kebersihan, dan akhlak terbaikmu ke sana.
“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang dicintai para penduduk langit, yaitu mereka yang hati mereka terpaut pada masjid.”
Jika kamu tidak temukan suasana ideal di masjid, jangan menjauh. Justru jadilah bagian dari perubahan itu.
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
