Di tengah arus pemikiran yang deras dan zaman yang cepat berubah, banyak pemuda Muslim merasa bingung: mana yang benar, mana yang salah. Apakah semua pendapat harus diterima? Apakah semua tradisi layak dijalani? Dalam kekacauan semacam ini, Islam memberikan kompas yang pasti: kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ.
Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul serta ulil amri di antara kalian. Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini merupakan landasan utama dalam membentuk sikap dan cara berpikir seorang Muslim. Ketika menghadapi persoalan hidup, terutama yang berkaitan dengan keyakinan dan ibadah, maka rujukan utamanya adalah wahyu, bukan opini manusia, tradisi leluhur, atau suara mayoritas.
Al-Qur’an: Kitab Petunjuk yang Tak Pernah Usang
Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci untuk dibaca saat tadarusan, tapi merupakan sumber utama petunjuk hidup. Allah menyebutnya sebagai:
“Hudan linnas” – petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah: 185)
Remaja Muslim harus meyakini bahwa tidak ada satu pun masalah hidup yang benar-benar baru, kecuali Allah telah memberikan petunjuk global maupun rinci dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi-Nya. Oleh karena itu, tidak layak mencari solusi dalam filsafat, budaya pop, atau norma barat tanpa terlebih dahulu menengok petunjuk wahyu.
Imam Malik rahimahullah berkata,
“Sunnah adalah seperti bahtera Nabi Nuh, siapa yang menaikinya akan selamat, siapa yang tertinggal akan tenggelam.”
Sunnah Rasul: Penjelas dan Pelengkap Al-Qur’an
Banyak yang menganggap cukup dengan Al-Qur’an, lalu menyepelekan hadis. Padahal, Sunnah adalah penjelas Al-Qur’an, dan Allah memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah ﷺ.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka ambillah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Dalam kehidupan Nabi ﷺ, kita temukan bagaimana beliau shalat, berpuasa, menikah, berdakwah, hingga memimpin umat. Semua itu menjadi contoh hidup yang konkret, yang tidak bisa diambil dari Al-Qur’an secara tekstual saja.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
“Setiap hukum yang aku tetapkan dan tidak ada padanya hadis Rasulullah ﷺ, maka buanglah pendapatku ke dinding.”
Ini menunjukkan bahwa ulama besar pun tetap tunduk kepada sunnah, tidak menjadikan logika atau ijtihad sebagai sumber utama di atas wahyu.
Tantangan Pemuda Hari Ini: Kebenaran yang Tertutup Opini
Era digital menjadikan semua orang bisa berbicara tentang Islam: selebgram, YouTuber, bahkan tokoh yang tidak belajar agama secara formal. Pendapat-pendapat mereka viral, diikuti banyak orang, namun tanpa rujukan kepada dalil atau ilmu syar’i.
Inilah yang disebut oleh Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara sekaligus dari dada manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, hingga ketika tidak tersisa ulama, manusia mengangkat pemimpin dari kalangan orang jahil. Lalu mereka ditanya, dan mereka berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pemuda harus waspada terhadap penyimpangan pemikiran yang berbalut semangat “kritis”, “progresif”, atau “reformasi agama”. Islam tidak butuh modernisasi prinsip, tetapi pemurnian praktik berdasarkan wahyu.
Keutamaan Kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah
- Menjadi Muslim yang konsisten dan tidak mudah goyah.
Di tengah fitnah pemikiran, siapa yang berpegang pada wahyu akan kokoh. - Mendapat ridha Allah dan keselamatan dunia akhirat.
Rasul ﷺ bersabda:“Aku tinggalkan pada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selamanya jika berpegang kepada keduanya: Kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Malik)
- Menyatukan umat di atas dalil, bukan hawa nafsu.
Umat Islam berpecah karena meninggalkan dalil dan mengikuti kelompok atau guru tertentu tanpa ilmu. - Menjadi penyeru kepada kebenaran.
Pemuda yang memegang prinsip wahyu akan jadi pembawa obor kebenaran, bukan ikut-ikutan tren.
Bagaimana Cara Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah?
- Pelajari Islam dari sumbernya, bukan dari media sosial.
Carilah kitab dasar akidah, fiqih, dan tafsir yang ditulis ulama terpercaya. - Duduk di majelis ilmu dan ikuti pengajaran ustaz yang bersanad keilmuan.
Jangan ambil ilmu dari motivator atau penceramah viral tanpa latar belakang ilmu syar’i. - Jadikan Al-Qur’an dan hadis sebagai standar menilai.
Bukan perasaan, mayoritas, atau logika mentah. - Biasakan bertanya “dalilnya apa?” dalam setiap pembahasan agama.
Bukan siapa yang menyampaikan, tapi apa yang dia sampaikan.
Penutup: Pilihan Kritis di Zaman Krisis
Remaja dan pemuda hari ini berada pada persimpangan: ikut arus atau mengikuti petunjuk. Jangan sampai hanya karena rasa malas belajar atau rasa percaya diri terhadap opini pribadi, seseorang meninggalkan wahyu.
Padahal jalan keselamatan itu satu, yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dipahami oleh para pendahulu umat ini yang lurus.
Allah berfirman:
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)
Semoga pemuda Muslim hari ini menjadi generasi yang kokoh di atas dalil, bukan sekadar semangat kosong. Generasi yang cinta wahyu dan menjadikan Al-Qur’an serta Sunnah sebagai kompas hidup.
MERENAH merajut ukhuwah menebar dakwah
